Elnusa Bidik Pertumbuhan Anorganik Lewat Lapangan Migas Marginal

0
5
Elnusa Bidik Pertumbuhan Anorganik Lewat Lapangan Migas Marginal
Salah satu kegiatan onshore migas Elnusa (ELSA). (Foto: Elnusa)

JAKARTA – PT Elnusa Tbk (ELSA) tengah berupaya menggali potensi pertumbuhan bisnis secara anorganik. Strategi ini difokuskan dengan memanfaatkan keahlian perusahaan sebagai operator berbiaya rendah (low-cost operator) untuk menggarap lapangan-lapangan minyak dan gas (migas) yang dianggap marginal atau tidak lagi aktif.

Direktur Utama PT Elnusa Tbk, Litta Ariesca, menjelaskan bahwa Indonesia memiliki banyak lapangan migas marginal atau idle yang merupakan peninggalan masa lalu dan sudah tidak lagi dioperasikan. Bagi perusahaan-perusahaan besar, lapangan semacam ini umumnya bukan lagi prioritas utama karena cadangan yang menipis dan potensi biaya operasional yang besar jika dikerjakan dengan metode konvensional.

“Kami sebagai salah satu perusahaan yang memang difokuskan untuk low cost operator, bahkan pada saat kami memberikan layanan di jasa, kami juga menekankan cost leadership dan efisiensi, sehingga kami menawarkan kepada induk dan pemerintah, mudah-mudahan suatu saat kami diberi kesempatan untuk mengerjakan lapangan idle tersebut,” ujar Litta baru-baru ini.

Ketertarikan Elnusa untuk menggarap lapangan migas marginal didorong oleh model operasi yang efisien. Selain itu, perseroan memiliki seluruh peralatan dan pengalaman yang dibutuhkan untuk mengoperasikan atau merawat produksi di lapangan migas yang ada saat ini. Oleh karena itu, Elnusa berambisi untuk mengoperasikan lapangan migas marginal di masa mendatang.

“Mudah-mudahan, lapangan migas marginal yang sangat banyak di Indonesia ini, salah satunya, salah duanya, dan salah tiganya dapat diberikan kepada kami untuk kami kerjakan dengan low-cost operating model,” imbuh Litta.

Apabila PT Pertamina (Persero) selaku induk usaha dan pemerintah memberikan kepercayaan kepada Elnusa untuk mengoperasikan lapangan migas marginal, perseroan meyakini hal tersebut akan menjadi sumber pertumbuhan anorganik yang signifikan. Elnusa telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk melangkah ke arah tersebut, mengingat lapangan migas marginal menjadi salah satu fokus pandang perseroan dalam waktu dekat. Intinya, perusahaan ingin memberikan kontribusi yang lebih besar dari yang sudah diberikan saat ini.

“Kami juga melihat, pertumbuhan migas terus meningkat, sedangkan cadangan migas semakin mengecil dan kebutuhan biaya semakin tinggi. Dengan teknologi yang tepat guna atau dengan efisiensi yang kami miliki, kami berharap dapat membantu pemerintah mencapai target 1 juta barel minyak dan 12 miliar kaki kubik per hari (Bscfd) gas bumi dalam waktu dekat,” ujarnya.

Target pemerintah untuk mencapai 1 juta barel minyak per hari dan 12 Bscfd gas bumi pada 2030, sebagaimana tercantum dalam Asta Cita di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, khususnya di bidang energi, mencakup pemanfaatan lapangan migas marginal. Untuk itu, Elnusa tidak hanya memanfaatkan teknologi tepat guna, tetapi juga teknologi modern. Meskipun saat ini belum memiliki teknologi modern secara penuh, perseroan siap bekerja sama dengan penyedia teknologi.

“Jadi, lapangan migas marginal itu sebenarnya bisa dikerjakan dengan dua cara yaitu menggunakan teknologi tepat guna yang bisa menurunkan biaya dan teknologi modern,” papar Litta.

Proyeksi Paruh Kedua

Memasuki semester II-2026, anak usaha PT Pertamina Hulu Energi (PHE) ini optimistis dapat melanjutkan pertumbuhan positif. Keyakinan ini didukung oleh kinerja solid perseroan di semester I-2026 yang ditopang oleh fundamental yang kuat. Litta menyatakan, kinerja semester I-2026 menjadi landasan Elnusa untuk mencapai target di semester II-2026.

“Kami sudah mencapai lebih dari yang kami harapkan di semester I dan tentunya akan terus terutama untuk health, safety, security, and environment (HSSE). Kemudian, efisiensi dan operational excellence masih tetap menjadi landasan yang ditingkatkan,” tegas Litta.

Ke depan, Litta memproyeksikan, penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) masih akan tetap tinggi, meskipun pemerintah telah berupaya mengimbanginya dengan energi listrik seperti kendaraan listrik. Hal ini karena BBM tidak hanya melayani kendaraan, tetapi juga industri, sehingga pertumbuhan sektor hilir diprediksi masih akan mendominasi, didukung oleh stabilitas permintaan.

Meskipun demikian, Elnusa tidak menutup opsi untuk melakukan shifting ke depannya dengan menjadi pemain jasa penunjang energi, alih-alih hanya menjadi penunjang bisnis migas. Peralihan ini bertujuan untuk mendukung kegiatan energi baru terbarukan (EBT). Salah satu bukti kesiapan ini adalah bisnis jasa survei seismik di sisi hulu yang dapat diaplikasikan baik untuk migas maupun panas bumi (geothermal).

Potensi Pertumbuhan dari Lapangan Marginal

Kepala Riset KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, berpendapat bahwa Elnusa berpotensi melanjutkan kinerja positif pada semester II-2026. Hal ini didukung oleh tingginya harga minyak yang dapat mendorong aktivitas jasa migas hulu, sehingga Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) akan lebih aktif dalam kegiatan pengeboran (drilling).

Di samping itu, Elnusa juga diuntungkan oleh kontrak jangka panjang dengan Pertamina yang memberikan visibilitas arus kas yang stabil. “Jika revisi RKAB dan relaksasi regulasi migas hulu berlaku positif untuk sektor jasa migas, hal ini berpotensi membuka tambahan proyek bagi perseroan,” ujar Wafi kepada Investor Daily, Kamis (20/8/2026).

Terkait inisiatif Elnusa menggarap lapangan migas marginal, Wafi menilai langkah strategis tersebut positif dan logis. Mengingat, selama ini Elnusa hanya menjalankan bisnis sebagai penyedia jasa bagi operator langsung. Inisiatif ini berpotensi mendatangkan upside yang lebih besar, meskipun juga disertai risiko yang lebih besar, seperti produksi dan belanja modal (capital expenditure) yang biasanya ditanggung oleh KKKS.

Selain itu, risiko eksekusi perlu terus dipantau. Menjadi operator lapangan migas marginal membutuhkan kapabilitas yang berbeda dari yang selama ini dijalankan Elnusa. Diperlukan due diligence secara spesifik untuk menentukan apakah inisiatif tersebut dapat menciptakan nilai. Namun, apabila eksekusi berjalan lancar, shifting ini akan mengurangi ketergantungan Elnusa terhadap bisnis hilir atau jasa.

Sepanjang semester I-2026, ELSA membukukan pendapatan sebesar Rp7,6 triliun, tumbuh 9%. Pertumbuhan ini diikuti kenaikan EBITDA sebesar 16% menjadi Rp862 miliar, dan laba bersih melonjak 29% menjadi Rp435 miliar. Menurut Litta, kinerja positif perseroan pada enam bulan pertama 2026 tidak lepas dari keberhasilan tim operasional dalam menekan beban usaha.

Faktor lain yang juga berkontribusi adalah menguatnya kurs dolar Amerika Serikat (US$) yang membuat nilai kas perseroan dalam ekuivalen dolar AS melonjak. Ditambah lagi, beban bunga juga berkurang pada semester I-2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yang berkontribusi pada lonjakan laba Elnusa hingga 29%.

Secara terperinci, kontributor kinerja positif ELSA pada semester I-2026 terbagi pada tiga lini bisnis. Pertama, bisnis hilir (downstream) yang memberikan sumbangsih terbesar sekitar 65%, berkaitan dengan meningkatnya permintaan BBM diikuti menggeliatnya fleet dan pengoperasian depo. Kedua, bisnis jasa hulu migas berkontribusi 27%, dan terakhir jasa penunjang migas sebesar 8%.

Litta menjelaskan, tingginya harga minyak belakangan ini berimplikasi positif kepada sektor hulu (upstream) perseroan. Harga minyak yang tinggi membuat pelaku usaha semakin yakin berinvestasi, sehingga saat ini merupakan momentum yang tepat bagi perusahaan-perusahaan hulu. “Kami sebagai jasa penunjang untuk kegiatan upstream juga mendapat sinyal positif sehingga kegiatan-kegiatan kami bisa berjalan sesuai target. Karena kalau harga minyak menurun, beberapa perusahaan itu akan menyetop investasi mereka,” ujar Litta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini