Harga emas terpantau stabil pada Jumat (21/8), berpotensi membukukan kenaikan mingguan ketiga kalinya secara berturut-turut. Stabilitas ini didukung oleh sentimen pelemahan dolar Amerika Serikat serta langkah Departemen Keuangan AS untuk menahan imbal hasil obligasi jangka panjang.
Mengutip Reuters, harga emas spot pada Jumat siang waktu setempat berada di level US$ 4.514,23 per troy ounce. Angka ini melanjutkan penguatan yang sempat menyentuh level tertinggi sejak awal Juni 2026 pada sesi sebelumnya. Sepanjang minggu ini, harga emas tercatat telah menguat sebesar 3,2%.
Sementara itu, dolar AS mengalami penurunan mingguan lebih dari 0,8%, diperdagangkan pada level 98,82 dan tertahan di dekat level terendahnya dalam tiga bulan terakhir. Pelemahan mata uang Paman Sam ini terjadi setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan rencana peningkatan pembelian kembali surat utang pemerintah (Treasuries).
Sebelumnya, Departemen Keuangan AS pada hari Rabu mengumumkan akan melipatgandakan volume pembelian kembali surat berharga jangka panjang pada kuartal mendatang. Operasi ini ditargetkan mencapai setidaknya US$ 4 miliar per transaksi.
Penguatan harga emas juga dipicu oleh sikap hati-hati pejabat Federal Reserve. Mereka menyatakan keprihatinan mengenai bagaimana perubahan manajemen utang oleh Departemen Keuangan AS dapat memengaruhi pilihan kebijakan moneter bank sentral.
Meskipun emas secara tradisional dianggap sebagai lindung nilai terhadap gejolak ekonomi dan inflasi, suku bunga yang cenderung lebih tinggi dapat mengurangi daya tariknya sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset).
Dari sisi geopolitik, Bessent juga menyatakan bahwa Amerika Serikat akan menjatuhkan sanksi terberat dalam sejarah terhadap Iran.
Sementara itu, pergerakan logam mulia lainnya menunjukkan harga perak spot bergerak datar di level US$ 68,03 per ons. Platinum tercatat naik 1,1% menjadi US$ 1.846,29, sedangkan harga paladium stabil di angka US$ 1.333,11.
