
Jakarta – Ibu kota Ukraina, Kyiv, dan wilayah sekitarnya dilanda gelombang serangan udara Rusia pada Kamis dini hari waktu setempat. Serangan ini dilaporkan menewaskan sedikitnya 16 orang, memicu Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk kembali mendesak komunitas global memberikan tanggapan tegas atas eskalasi konflik yang telah memasuki tahun kelima.
Proses evakuasi di lokasi serangan berlangsung dramatis sejak subuh, dengan petugas penyelamat menyisir puing-puing bangunan yang hancur. Salah satu bangunan yang rusak parah adalah sebuah rumah sakit anak. Di area lain, keluarga korban menyaksikan jenazah dievakuasi dari reruntuhan apartemen.
“Dulu ada bangunan berdiri di sini, sekarang semuanya musnah,” tutur Maria Abramova (45), salah seorang warga setempat. Ia menceritakan bahwa saat sirine tanda bahaya berbunyi, ia baru saja menjangkau kamar anak-anaknya. Ledakan hebat yang menyusul kemudian menghancurkan kaca jendela rumahnya dan nyaris menewaskan suaminya.
Rudal balistik yang diluncurkan Rusia dikenal memiliki kecepatan ribuan kilometer per jam dan mampu mencapai target dalam hitungan menit. Dalam serangan kali ini, ledakan pertama terdengar kurang dari tiga menit setelah peringatan resmi dibunyikan, memberikan waktu yang sangat singkat bagi warga untuk mencari perlindungan.
Ukraina menghadapi kesulitan signifikan dalam mengintersepsi gelombang rudal balistik ini. Sistem pertahanan udara Patriot buatan Amerika Serikat dilaporkan menjadi satu-satunya cara yang efektif untuk melumpuhkan proyektil jenis tersebut.
Wali Kota Kyiv, Vitaly Klitschko, mengonfirmasi bahwa 15 korban jiwa berada di wilayah ibu kota, sementara satu korban lainnya tewas di kawasan pinggiran Kyiv. Selain pemukiman warga, fasilitas gudang di Boryspil juga dilaporkan mengalami kerusakan parah akibat pemboman yang berlangsung selama sembilan jam.
“Ini adalah serangan masif. Rusia telah mempersiapkannya sejak lama dengan mengombinasikan berbagai jenis rudal balistik, rudal jelajah, dan drone,” ujar Zelensky. Angkatan Udara Ukraina melaporkan berhasil menjatuhkan 39 dari setidaknya 44 rudal yang diluncurkan oleh pihak Rusia.
Pihak Rusia, sebaliknya, mengklaim bahwa gempuran tersebut berhasil mengenai target strategis yang meliputi fasilitas industri militer, pusat logistik, dan pergudangan persenjataan.
Aksi militer Rusia ini juga memicu respons siaga dari negara-negara tetangga, termasuk anggota NATO seperti Polandia dan Rumania. Komando Militer Polandia mengaktifkan sistem pertahanan udara dan menyiagakan pesawat tempur untuk mengamankan wilayah udaranya.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rumania memobilisasi dua jet tempur Spanyol dan helikopter militer setelah radar mendeteksi objek asing. Sebuah drone dilaporkan memasuki wilayah udara Rumania sebelum akhirnya jatuh di area tak berpenghuni dekat Tulcea. Di Moldova, sebuah drone tipe Shahed juga jatuh dan memicu kebakaran di dekat perbatasan.
Di sisi lain, Rusia mengklaim telah berhasil menjatuhkan 726 drone Ukraina yang diluncurkan dalam serangan balasan pada malam yang sama.
Konflik bersenjata antara Rusia dan Ukraina, yang meletus sejak Februari 2022, telah berkembang menjadi krisis keamanan terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II. Meskipun Ukraina secara rutin melancarkan serangan balasan ke wilayah Rusia untuk menekan Moskow agar mau bernegosiasi, berbagai upaya diplomasi sejauh ini selalu menemui jalan buntu.
Pemerintah Rusia terus menuntut konsesi politik dan teritorial yang luas sebagai syarat penghentian perang. Namun, Presiden Zelensky secara tegas menolak tuntutan tersebut, menilai bahwa pemenuhannya sama saja dengan kapitulasi atau penyerahan diri, yang akan membahayakan kedaulatan negara dan membiarkan Ukraina rentan terhadap invasi lanjutan di masa depan.