
JAKARTA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bergerak cepat menangani dampak gempa bumi bermagnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang melumpuhkan fasilitas kesehatan. Kemenkes telah resmi mengerahkan dua unit Rumah Sakit (RS) lapangan, membentuk tim Emergency Medical Team (EMT) sesuai standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), serta memastikan stok obat-obatan mencukupi untuk lima hari ke depan.
Ketua Satgas Bencana Kemenkes, Sumarjaya, menyatakan bahwa prioritas utama pemerintah adalah pemenuhan layanan medis dan pasokan logistik di delapan kabupaten/kota yang terdampak bencana.
“Yang paling penting bagaimana kita menyelamatkan dan menjaga agar masyarakat tetap mendapatkan pelayanan kesehatan serta menjaga kesehatan tetap terjaga,” ujar Sumarjaya dalam konferensi pers virtual mengenai penanganan gempa NTT, Rabu (19/8/2026).
Operasi Darurat di Tenda Pengungsian
Kerusakan parah pada bangunan rumah sakit dan puskesmas permanen memaksa dilakukannya tindakan medis darurat di fasilitas sementara. Kemenkes mengaktifkan Health Emergency Operation Center (HEOC) dan mendirikan dua RS lapangan di RS Ruteng serta RS Aeramo, Kabupaten Nagekeo.
Sumarjaya menjelaskan bahwa tindakan operasi pembedahan pascabencana kini telah dilaksanakan di dalam tenda RS lapangan. “Dua rumah sakit lapangan yang kita kirimkan itu di Rumah Sakit Ruteng karena cukup parah, jadi kita sudah mendirikan rumah sakit lapangan dan hari ini telah melakukan operasi di tenda. Termasuk juga di Rumah Sakit Aeramo itu di Nagekeo, hari ini sudah berjalan operasi juga sudah dilakukan,” tegasnya.
Untuk memaksimalkan penanganan pasien rujukan dari wilayah yang sempat terisolasi seperti Lambaleda, Pota, dan Dampek, Kemenkes berkoordinasi dengan Basarnas untuk proses evakuasi darurat.
Mobilisasi Tenaga Kesehatan Standar WHO dan Klaster Kesehatan
Guna mendukung pelayanan di posko pengungsian, Kemenkes membentuk klaster kesehatan di tingkat kabupaten/kota dan provinsi yang dipimpin oleh Kepala Dinas Kesehatan setempat. Langkah awal difokuskan pada pemetaan detail kebutuhan di lapangan.
“Kami mendata dulu berapa jumlah korban, luka berat, luka ringan, pengungsian, dan titik pengungsian. Ini dalam rangka memberikan layanan kepada masyarakat terdampak,” jelas Sumarjaya.
Penanganan medis ini juga diperkuat dengan mobilisasi tenaga kesehatan (nakes) melalui tim manajemen krisis dan relawan EMT sesuai standar WHO. “Kita tempatkan relawan berdasarkan identifikasi pelayanan kesehatan. Jadi mereka bisa ditempatkan sesuai kebutuhan di lapangan,” tambah Sumarjaya.
Terkait pasokan obat-obatan di tujuh kabupaten Kepulauan Flores, Sumarjaya memastikan stoknya relatif tercukupi dan siap untuk dipasok secara berkala dari pusat. “Kami laporkan pada saat ini lima hari ke depan semua obat masih terjamin dan kami siap memobilisasi dari pusat kebutuhan-kebutuhan obat yang untuk di daerah terdampak di tujuh kabupaten tersebut,” ungkapnya.
398 Ton Bantuan Tembus Medan Sulit di Flores
Upaya medis di lapangan didukung oleh penyaluran logistik dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Hingga Selasa (18/8/2026), total 398 ton bantuan telah didistribusikan melalui jalur udara, darat, dan kapal perang KRI Bung Hatta.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Suar Pelita Panjaitan, mengungkapkan bahwa kondisi geografis daratan Flores menjadi tantangan utama dalam kecepatan distribusi logistik. “Namun, kita perlu pahami bahwa karakter geografis Flores dan kondisi sejumlah ruas jalan yang membuat distribusi ini menjadi pelan karena memang dilakukan secara bertahap dan menyesuaikan kondisi akses hingga ke kecamatan sampai ke titik pengungsian,” jelasnya.
Berton mengimbau para penyintas gempa untuk tetap tenang dan tidak termakan isu liar mengenai krisis pasokan medis. “Satu hal yang penting kita catat tadi adalah bahwa tadi ada obat-obatan masih sampai 5 hari ini masih aman, 5 hari ke depan itu masih aman dan juga akan terus ditambah. Jadi mohon warga para penyintas yang ada di NTT kami kira tetap tidak terlalu panik,” pungkas Berton.