Beranda News Kinerja APBN Triwulan III 2025, Defisit Rp371,5 Triliun

Kinerja APBN Triwulan III 2025, Defisit Rp371,5 Triliun

0
186

Kinerja APBN Hingga Triwulan Ketiga 2025 Tetap Adaptif dan Kredibel

Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir triwulan ketiga tahun 2025 tetap menunjukkan adaptasi yang baik serta kredibilitas tinggi. Defisit anggaran tercatat sebesar 1,56 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), jauh di bawah outlook tahun penuh sebesar 2,78 persen PDB. Selain itu, Keseimbangan Primer mencatat surplus sebesar Rp18 triliun.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa defisit anggaran mencapai Rp371,5 triliun atau setara dengan 1,56 persen terhadap PDB. Ia menyatakan bahwa hal ini menunjukkan bahwa APBN tetap dapat beradaptasi dengan situasi ekonomi yang dinamis sambil tetap menjaga keseimbangan antara dukungan terhadap pemulihan ekonomi dan kesinambungan fiskal dalam jangka menengah.

Menkeu Purbaya menyampaikan hasil tersebut dalam Konferensi Pers APBN KiTa di Jakarta pada Selasa (14/10/2025). Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa total Pendapatan Negara hingga akhir September 2025 tercatat sebesar Rp1.863,3 triliun, atau sekitar 65,0 persen dari outlook yang ditetapkan.

Meskipun capaian pendapatan negara telah mencapai lebih dari separuh target, nominalnya masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Menurut Menteri Keuangan, tekanan utama berasal dari penurunan harga komoditas global yang memengaruhi penerimaan perpajakan, khususnya di sektor migas dan tambang.

Penurunan harga komoditas seperti batu bara dan sawit menyebabkan penerimaan PPh Badan dan PPN dalam negeri sedikit tertahan. Namun, sektor manufaktur dan jasa tetap memberikan kontribusi positif terhadap penerimaan negara.

Dari sisi belanja negara, realisasi mencapai Rp2.234,8 triliun atau 63,4 persen dari outlook. Pertumbuhan belanja pemerintah pusat tergolong tipis, sementara Transfer ke Daerah telah terealisasi sebesar Rp648,4 triliun atau 74,6 persen dari pagu yang ditetapkan.

Efektivitas belanja negara didorong oleh pelaksanaan program prioritas, bansos, dan belanja modal infrastruktur. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah tetap fokus pada penggunaan anggaran yang tepat sasaran dan berdampak langsung terhadap masyarakat.

Faktor Penyebab Rendahnya Capaian Pendapatan Negara

Beberapa faktor menjadi penyebab rendahnya capaian pendapatan negara hingga akhir triwulan ketiga 2025. Salah satunya adalah fluktuasi harga komoditas global. Penurunan harga batu bara dan sawit mengurangi penerimaan pajak dari sektor energi dan pertanian. Hal ini berdampak langsung pada penerimaan PPh Badan dan PPN dalam negeri.

Selain itu, kondisi ekonomi global yang tidak stabil juga turut memengaruhi permintaan akan produk Indonesia. Meski demikian, sektor manufaktur dan jasa tetap menunjukkan pertumbuhan yang positif, membantu menjaga keseimbangan pendapatan negara.

Peran Sektor Manufaktur dan Jasa

Sektor manufaktur dan jasa menjadi salah satu tulang punggung pendapatan negara. Meskipun ada tekanan dari sektor energi dan pertanian, kedua sektor ini tetap mampu memberikan kontribusi yang signifikan. Peningkatan aktivitas industri dan layanan jasa menunjukkan adanya potensi pertumbuhan ekonomi yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan pendapatan negara.

Strategi Pengelolaan Anggaran

Pemerintah terus berupaya meningkatkan efisiensi pengelolaan anggaran. Pelaksanaan program prioritas, bansos, dan belanja modal infrastruktur menjadi fokus utama dalam penggunaan dana APBN. Dengan demikian, anggaran yang dialokasikan diharapkan dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan perekonomian nasional.


TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini