Keberhasilan kapal MV Blanco Ace melakukan uji sandar di Pelabuhan Patimban menjadi penanda penting bagi perkembangan pelabuhan tersebut sebagai salah satu gerbang utama logistik dan rantai pasok Indonesia.
MV Blanco Ace adalah kapal jenis Pure Car Carrier (PCC) dengan panjang hampir 200 meter dan tonase sekitar 72.700 GT, yang memiliki kapasitas angkut maksimum mencapai 5.906 kendaraan. Dalam kunjungan kali ini, kapal tersebut membongkar sekitar 1.101 unit truk setelah melakukan pelayaran dari Hambantota, Sri Lanka.
Ketua Dewan Pembina Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Yukki Nugrahawan Hanafi, menilai keberhasilan kapal berkapasitas besar itu bersandar menunjukkan peningkatan kesiapan infrastruktur dan operasional Pelabuhan Patimban.
“Ini bukan sekadar mengenai kapal terbesar yang pernah sandar, namun juga milestone penting pengakuan pelayaran internasional terhadap Pelabuhan Patimban. Pelabuhan Patimban semakin menunjukkan kapasitasnya untuk melayani kapal-kapal besar dan volume kargo yang semakin meningkat secara aman, efisien, dan kompetitif,” ujar Yukki dalam keterangannya, Jumat (21/8/2026).
Menurutnya, perkembangan Pelabuhan Patimban harus dilihat dalam konteks yang lebih luas. Sebagai negara kepulauan dan salah satu basis manufaktur terbesar di ASEAN, Indonesia membutuhkan pelabuhan yang terintegrasi dengan kawasan industri, jaringan transportasi, serta sistem logistik nasional dan global. Keberadaan Patimban memiliki posisi strategis karena lokasinya yang dekat dengan pusat industri otomotif dan manufaktur di Jawa Barat.
Peningkatan kapasitas car terminal di Patimban akan mendukung ekspor-impor kendaraan, sekaligus memberikan peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya dalam rantai pasok otomotif global. “Industri tidak hanya membutuhkan pelabuhan dengan kapasitas besar. Yang dibutuhkan adalah sebuah ekosistem yang memberikan kepastian waktu, efisiensi biaya, konektivitas, digitalisasi, serta akses yang baik dari kawasan industri menuju pelabuhan,” kata Yukki, yang juga menjabat sebagai Komisaris PT Pelabuhan Patimban Internasional.
Yukki menambahkan, perkembangan car terminal berjalan seiring dengan mulai berkembangnya layanan peti kemas internasional di Patimban. Hal ini menunjukkan bahwa Patimban secara bertahap berkembang dari pelabuhan yang kuat di sektor otomotif menjadi gerbang logistik dan rantai pasok terintegrasi.
Semakin banyaknya kapal dan layanan internasional yang masuk akan menciptakan skala ekonomi, meningkatkan konektivitas langsung dengan pasar global, serta memberikan lebih banyak pilihan bagi para eksportir, importir, perusahaan pelayaran, dan pelaku logistik.
“Patimban harus kita bangun bukan hanya untuk menjawab kebutuhan hari ini, tetapi kebutuhan Indonesia 10 sampai 20 tahun ke depan. Pelabuhan ini harus menjadi bagian dari strategi meningkatkan daya saing industri, memperkuat ketahanan rantai pasok, dan menarik investasi baru ke Indonesia,” tegas Yukki.
Ia juga menekankan bahwa pengembangan Patimban tidak perlu dipandang sebagai kompetisi dengan pelabuhan lainnya. Dalam sistem logistik nasional, setiap pelabuhan memiliki fungsi dan keunggulan masing-masing serta harus saling melengkapi untuk menciptakan jaringan logistik Indonesia yang lebih efisien.
“Target akhirnya bukan sekadar semakin banyak kapal yang datang. Ukuran keberhasilannya adalah apakah kehadiran Patimban mampu menurunkan logistik cost, meningkatkan keandalan rantai pasok, memperkuat ekspor, dan pada akhirnya meningkatkan daya saing Indonesia,” tutup Yukki.
