Nilai tukar rupiah (IDR) diprediksi akan kembali menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan pekan depan, tepatnya dimulai Senin, 24 Agustus 2026. Prediksi ini didasarkan pada analisis pergerakan pasar dan berbagai sentimen yang memengaruhinya.
Pada penutupan perdagangan Jumat sore, 21 Agustus 2026, rupiah tercatat menguat 54 poin atau 0,30% ke level Rp 17.694 per dolar AS. Penguatan ini melanjutkan tren positif dari penutupan sebelumnya yang berada di level Rp 17.748 per dolar AS.
Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada Senin depan, namun diprediksi berada dalam rentang penguatan antara Rp 17.640 hingga Rp 17.700 per dolar AS. Ia menambahkan, untuk pergerakan nilai tukar rupiah sepanjang pekan depan, diprediksi akan bergerak di kisaran Rp 17.600 hingga Rp 17.900 per dolar AS.
Ibrahim menjelaskan bahwa pergerakan rupiah pekan depan masih akan sangat dipengaruhi oleh berbagai sentimen eksternal. Salah satu sentimen utama yang perlu dicermati adalah perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Timur Tengah, serta kondisi pasar keuangan di Amerika Serikat.
Departemen Keuangan AS baru-baru ini mengumumkan rencana untuk meningkatkan pembelian kembali (buyback) surat berharga negara (Treasury) berjangka waktu lebih panjang. Operasi buyback ini ditargetkan mencapai setidaknya US$ 4 miliar per transaksi. Selain itu, data klaim tunjangan pengangguran mingguan di AS juga menunjukkan penurunan, sebuah indikasi bahwa pasar tenaga kerja negara adidaya tersebut tetap stabil. Perkembangan ini memberikan ruang bagi Federal Reserve untuk terus fokus pada upaya pengendalian inflasi.
Dari sisi geopolitik, perkembangan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan kemajuan signifikan juga akan memengaruhi rupiah. Pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai tekanan ekonomi terhadap negara-negara yang mendukung Iran menambah ketidakpastian di pasar global.
Di sisi domestik, rupiah diprediksi akan mendapatkan sentimen positif menyusul rilis data pertumbuhan kredit Indonesia pada bulan Juli 2026. Pertumbuhan kredit tercatat solid sebesar 13,58% secara tahunan (year-on-year), mengalami peningkatan dari angka 12,67% pada Juni 2026. Hal ini menunjukkan adanya geliat ekonomi yang positif di dalam negeri.
Namun, Bank Indonesia (BI) melaporkan adanya defisit pada neraca transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) sebesar US$ 12,5 miliar pada kuartal II-2026. Angka ini setara dengan 3,3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Defisit transaksi berjalan yang lebih tinggi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yang diperkirakan bersifat temporer. Pada kuartal sebelumnya, defisit transaksi berjalan hanya tercatat sebesar US$ 3,6 miliar atau 1,0% dari PDB.
