Rupiah Perkasa Jelang Akhir Pekan, Sentuh Rp 17.694 per Dolar AS

0
12
Rupiah Perkasa Jelang Akhir Pekan, Sentuh Rp 17.694 per Dolar AS
Ilustrasi uang pecahan rupiah dan dolar AS. (Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/Spt/aa)

JAKARTA – Nilai tukar rupiah mengakhiri pekan dengan tren penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (USD). Pada penutupan perdagangan Jumat, 21 Agustus 2026, mata uang Garuda tercatat menguat 54 poin atau 0,30% ke level Rp 17.694 per dolar AS.

Posisi ini lebih baik dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp 17.748 per dolar AS. Penguatan rupiah terjadi di tengah bayang-bayang sentimen eksternal yang cukup signifikan.

Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan salah satu sentimen eksternal tersebut adalah pengumuman Departemen Keuangan AS yang berencana melipatgandakan pembelian kembali (buyback) surat berharga negara (Treasury) berjangka waktu lebih panjang. Operasi ini diperkirakan mencapai setidaknya US$ 4 miliar per kuartal mendatang.

Di sisi lain, data klaim tunjangan pengangguran mingguan di Amerika Serikat menunjukkan penurunan. Angka ini mengindikasikan bahwa pasar tenaga kerja negara adidaya tersebut tetap relatif stabil, meskipun sempat tercatat adanya penurunan jumlah lapangan kerja yang tak terduga pada bulan Juli 2026.

“Kondisi ini membuat Federal Reserve tetap fokus pada upaya pengendalian inflasi, sementara pasar terus memperdebatkan waktu pelaksanaan langkah kebijakan suku bunga berikutnya,” ungkap Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (21/8/2026).

Dari ranah geopolitik, rupiah turut melanjutkan penguatannya seiring dengan memudarnya upaya untuk memulai kembali perundingan AS-Iran. Presiden AS Donald Trump diketahui menyatakan tekanan ekonomi terhadap negara-negara yang mendukung Iran.

Sementara dari dalam negeri, rupiah kembali menunjukkan performa positif menyusul rilis data pertumbuhan kredit Indonesia pada bulan Juli yang tetap solid. Pertumbuhan ini terjadi meskipun dunia usaha cenderung mengurangi aktivitas peminjaman di tengah iklim ketidakpastian global.

Berdasarkan data, kredit perbankan di Indonesia pada Juli 2026 tercatat tumbuh solid sebesar 13,58% secara tahunan (year-on-year). Angka ini meningkat dibandingkan pertumbuhan bulan Juni 2026 yang sebesar 12,67%.

Pencapaian positif ini ditopang oleh sejumlah faktor pendukung, termasuk insentif likuiditas. Rasio kecukupan modal (CAR) perbankan berada di level tinggi 23,70%, rasio kredit bermasalah (NPL) tetap terjaga rendah di kisaran 2,09% bruto, serta kebijakan makroprudensial yang akomodatif dari Bank Indonesia (BI).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini